Perdana, Aceh Utara Peringati Hari Jadi ke-800 dan Kenang Samudera Pasai
ACEH UTARA | Suara Aceh.id- Pemerintah Kabupaten Aceh Utara untuk pertama kalinya menggelar peringatan Hari Jadi ke-800 Kabupaten Aceh Utara. Upacara berlangsung di halaman Kantor Bupati Aceh Utara, Senin (7/9/2026).
Peringatan ini bukan sekadar seremoni. Milad ke-800 menjadi momentum bagi Aceh Utara untuk menegaskan kembali akar sejarah daerah yang berkaitan erat dengan jejak kejayaan Samudera Pasai sebagai salah satu pusat awal peradaban Islam di Nusantara.
Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, mengatakan peringatan hari jadi merupakan momentum penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan asal-usul daerah.
“Peringatan hari jadi ini baru kali ini kita laksanakan. Ini adalah momen penting untuk kita mengingat sejarah dan asal-usul Kabupaten Aceh Utara,” ujar Ismail dalam amanatnya.
Penetapan 7 September sebagai Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara mengacu pada Qanun Kabupaten Aceh Utara Nomor 10 Tahun 2017.
Tanggal tersebut memiliki landasan sejarah yang kuat. Salah satunya merujuk pada penemuan batu nisan tertua milik Raja Ahmad dan Ibnu Mahmud yang bertarikh 622 Hijriah atau 1226 Masehi.
Selain itu, penetapan hari jadi juga berkaitan dengan rekam jejak Samudera Pasai yang menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam dan peradaban di Nusantara.
Warisan Leluhur Jadi Energi Pembangunan
Dalam pidatonya, Ismail mengajak seluruh masyarakat Aceh Utara tidak berhenti pada romantisme sejarah. Warisan leluhur, kata dia, harus menjadi sumber inspirasi untuk membangun daerah ke depan.
Ia mengibaratkan perjalanan peradaban seperti benang yang merajut selembar kain dan mata rantai yang tidak boleh terputus dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga harus menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan Aceh Utara.
Dari Upacara hingga Festival Kuliner
Rangkaian Milad ke-800 berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.Kegiatan diawali dengan upacara kedinasan yang dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta Majelis Adat Aceh.
Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Stand Expo dan peninjauan stan yang menampilkan berbagai potensi daerah.
Perhatian masyarakat kemudian tertuju pada Festival Kuliner Aceh Utara. Beragam makanan tradisional turut dihadirkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan kuliner warisan leluhur.
Sejumlah hidangan yang ditampilkan antara lain Kuah Pliek U, Engkot Muloh, Teuteu, dan Kue Bhoi.
Festival tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa warisan Aceh Utara tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi juga hidup dalam tradisi, budaya, dan kuliner masyarakat.
Melalui peringatan Hari Jadi ke-800, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berharap sejarah dan warisan Samudera Pasai dapat menjadi modal budaya sekaligus fondasi untuk menghadapi tantangan pembangunan di masa mendatang.
Delapan abad perjalanan sejarah akhirnya diperingati secara resmi. Kini, tantangannya bukan sekadar menjaga ingatan tentang masa lalu, tetapi memastikan warisan tersebut tetap hidup dan memberi arah bagi masa depan Aceh Utara.[Red]
