Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata

ACEH UTARA | SUARA ACEH.id- Dugaan kekerasan terhadap wartawan Haiqal Alfikri di tengah kericuhan pertandingan sepak bola di Kecamatan Tanah Luas, Ace


ACEH UTARA | SUARA ACEH.id- Dugaan kekerasan terhadap wartawan Haiqal Alfikri di tengah kericuhan pertandingan sepak bola di Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara, mendapat kecaman dari Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Aceh (Satgas PPA).


Koordinator Satgas PPA, Tri Nugroho Panggabean, menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat ditoleransi, siapa pun pelakunya, termasuk jika dugaan tindakan tersebut dilakukan oleh aparat keamanan.


“Wartawan bukan musuh TNI. Wartawan bekerja dengan pena, bukan dengan senjata. Tidak seharusnya sikap seperti itu dialami oleh wartawan,” kata Tri Nugroho.


Menurut Tri, negara Indonesia merupakan negara hukum. Karena itu, setiap tindakan yang diduga melanggar hukum harus diselesaikan melalui mekanisme hukum, bukan dengan kekerasan maupun tindakan di luar prosedur.


“Tindakan kekerasan tidak dapat ditoleransi, meskipun itu dilakukan oleh seorang aparat keamanan. Kita adalah negara hukum. Sudah sepatutnya aparat penegak hukum menjunjung tinggi hukum dan memberikan contoh kepada masyarakat,” ujarnya.


Tri menilai aparat keamanan memiliki tanggung jawab lebih besar untuk mengendalikan diri ketika menghadapi situasi yang memanas. Menurut dia, penggunaan kekuatan harus tetap berada dalam koridor hukum dan kewenangan yang dimiliki.


Soroti Sikap Danramil


Tri juga menyoroti sikap Danramil 10 Tanah Luas dalam memberikan keterangan terkait insiden tersebut. Ia menilai seorang pimpinan semestinya mengambil posisi yang objektif ketika anggotanya diduga terlibat dalam sebuah persoalan.


“Apa yang terjadi hari ini di Tanah Luas harus menjadi perhatian. Termasuk sikap yang disampaikan oleh Danramil, yang dalam pernyataannya justru terkesan membela bawahannya,” kata Tri.


Menurut dia, seorang pimpinan seharusnya tidak terburu-buru mengambil posisi sebelum fakta peristiwa diperiksa secara menyeluruh.


“Seharusnya sebagai seorang pimpinan bukan bersikap seperti itu. Ketika ada anggota yang diduga terlibat dalam persoalan, yang dikedepankan adalah objektivitas. Periksa dulu faktanya, dengarkan semua pihak, baru kemudian mengambil kesimpulan,” ujarnya.


Tri mengatakan sikap seorang pimpinan akan menjadi cerminan institusi yang dipimpinnya. Karena itu, menurut dia, setiap pernyataan publik harus disampaikan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kesan bahwa institusi sedang membenarkan tindakan anggotanya sebelum proses pemeriksaan selesai.


“Jangan sampai publik menangkap kesan bahwa ketika anggota bermasalah, yang dilakukan justru membangun pembelaan. Institusi harus menunjukkan bahwa hukum berlaku untuk siapa saja,” katanya.


Wartawan Bekerja dengan Pena


Tri kembali menegaskan bahwa wartawan tidak semestinya ditempatkan sebagai pihak yang berseberangan dengan aparat keamanan.


“Wartawan bukan musuh TNI. Mereka bekerja dengan pena, kamera, dan fakta. Mereka bukan datang membawa senjata untuk melawan aparat,” ujarnya.


Menurut Tri, perbedaan pemberitaan, kritik, maupun hasil liputan yang tidak menyenangkan seharusnya tidak menjadi alasan bagi siapa pun untuk melakukan intimidasi atau kekerasan terhadap wartawan.


“Kalau ada pemberitaan yang dianggap keliru, ada hak jawab dan mekanisme hukum yang bisa ditempuh. Jangan dibalas dengan kekerasan,” katanya.


Minta Peristiwa Tanah Luas Diusut Terbuka


Tri meminta dugaan kekerasan terhadap Haiqal diperiksa secara objektif dan transparan. Ia menilai seluruh pihak yang berada di lokasi perlu dimintai keterangan untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara utuh.


“Yang harus dibuka adalah fakta. Siapa melakukan apa, bagaimana awal kejadiannya, dan apa yang terjadi setelah itu. Jangan sampai kesimpulan dibuat sebelum pemeriksaan selesai,” ujarnya.


Sebelumnya, Haiqal Alfikri mengaku dipiting dari belakang oleh seorang anggota TNI ketika berada di tengah kericuhan pertandingan. Ia juga mengaku mengalami tindakan kekerasan dari anggota lainnya.


Haiqal membantah dirinya diamankan oleh personel Polsek Tanah Luas. Ia mengatakan dirinya berlari menuju Polsek karena kendaraan miliknya memang diparkir di lokasi tersebut.


Akibat kejadian itu, Haiqal mengaku mengalami nyeri pada bagian rusuk dan masih menjalani observasi medis.


Tri berharap peristiwa tersebut menjadi momentum bagi semua pihak untuk memperkuat penghormatan terhadap hukum dan kebebasan pers.


“Jangan ada yang merasa kebal hukum. Aparat harus menjadi contoh dalam menjunjung hukum. Wartawan juga harus dilindungi ketika menjalankan tugas jurnalistik. Kalau ada persoalan, hadapi dengan hukum, bukan dengan kekerasan,” tegas Tri Nugroho.


Dugaan kekerasan terhadap Haiqal masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Keterangan Haiqal merupakan kesaksian dari pihak yang mengaku mengalami langsung kejadian, sementara keterangan dari pihak TNI, kepolisian, dan saksi lain di lokasi diperlukan untuk memperoleh gambaran yang utuh dan berimbang. [Red]

Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata
  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata
  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata
  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata
  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata
  • Haiqal Diduga Dianiaya Oknum TNI, Satgas PPA: Wartawan Bekerja dengan Pena, Bukan Senjata